Minggu, 06 Juli 2014

Persamaan dan perbedaan antara Museum, Kearsipan dan Keperpustakaan.



Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 43 Tahun 2009 mengenai Kearsipan, beberapa pengertian mengenai arsip dan kearsipan telah terangkum di dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1. Berikut ini pengertian arsip dan kearsipan menurut UU No. 43 Tahun 2009:
  1. Kearsipan adalah hal-hal yang berkenaan dengan arsip.
  2. Arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  3. Arsip dinamis adalah arsip yang digunakan secara langsung dalam kegiatan pencipta arsip dan disimpan selama jangka waktu tertentu.
  4. Arsip vital adalah arsip yang keberadaannya merupakan persyaratan dasar bagi kelangsungan operasional pencipta arsip, tidak dapat diperbarui, dan tidak tergantikan apabila rusak atau hilang.
  5. Arsip aktif adalah arsip yang frekuensi penggunaannya tinggi dan/atau terus menerus.
  6. Arsip inaktif adalah arsip yang frekuensi penggunaannya telah menurun.
  7. Arsip statis adalah arsip yang dihasilkan oleh pencipta arsip karena memiliki nilai guna kesejarahan, telah habis retensinya, dan berketerangan dipermanenkan yang telah diverifikasi baik secara langsung maupun tidak langsung oleh Arsip Nasional Republik Indonesia dan/atau lembaga kearsipan.
  8. Arsip terjaga adalah arsip negara yang berkaitan dengan keberadaan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara yang harus dijaga keutuhan, keamanan, dan keselamatannya.
Arsip umum adalah arsip yang tidak termasuk dalam kategori arsip terjaga
B. Pengertian Arsip
Menurut bahasa referensi, arsip atau records merupakan informasi yang direkam dalam bentuk atau medium apapun, dibuat, diterima, dan dipelihara oleh suatu organisasi/lembaga/badan/perorangan dalam rangka pelaksanaan kegiatan.[4] Pengertian tersebut tampaknya tidak jauh berbeda dengan yang termaktub dalam UU No. 7 Tahun 1971 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kearsipan.[5]
Secara etimologi arsip berasal dari  bahasa Yunani Kuno Archeon, Arche yang dapat bermakna permulaan, asal, tempat utama, kekuasaan dan juga berarti bangunan/kantor. Perkembangan selanjutnya kita mengenal archaios yang berarti kuno, archaic, architect, archaeology, archive dan arsip. Pengertian-pengertian tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan betapa sebenarnya bidang kearsipan itu sudah cukup akrab di indera dengar kita, disamping juga sudah cukup tua umur kemunculannya.
Lebih dari sekedar diskusi tentang istilah arsip, sebenarnya secara akademis kita juga akan lebih jauh melihat eksistensi kearsipan sebagai ilmu pengetahuan. Bila ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan yang tersusun dan pengetahuan adalah pengamatan yang disusun secara sistematis, maka kearsipan tentu dapat dikategorikan sebagai ilmu pengetahuan. Sebagai ilmu pengetahuan, kearsipan  memenuhi syarat-syarat universalism, organized, disinterestedness dan communalism. Semua itu  dikemukakan sebagai justifikasi terhadap  eksistensi kearsipan.
Lebih jauh lagi kita dapat melacak kedudukan kearsipan dalam kerangka ilmu informasi.  Dalam ilmu informasi kita mengenal dokumentasi yang didalamnya meliputi dokumen dalam wujud korporil (museum), dokumen dalam wujud literair (perpustakaan), dan dokumen privat (kearsipan).
Secara umum kita dapat mengidentifikasi dokumen dalam wujud korporil sebagai benda-benda artefak dan koleksi-koleksi antik dan karya  yang memiliki nilai historis dan archaic, khasanah  tersebut dikelola oleh museum.
Dokumen literair yang meliputi bidang perpustakaan disebut juga sebagai dokumentasi publik (dokumentasi yang terbuka untuk umum) yang dibedakan dengan dokumentasi privat (arsip). Dalam kaitan ini secara lebih rinci  kita dapat mengidentifikasi perbedaan  arsip dengan perpustakaan sebagai berikut:
1. Fungsi perpustakaan adalah menyimpan dan menyediakan koleksi buku dan bahan tercetak, sedangkan fungsi utama arsip adalah memelihara akumulasi dari bukti aktivitas / kegiatan suatu organisasi atau perorangan sebagai organic entity.
2. Pustakawan berhubungan dengan koleksi atau bahan pustaka dalam wujud berbagai kopi buku dari suatu terbitan yang sangat mungkin terdapat pada perpustakaan lain. Sedangkan arsiparis atau petugas kearsipan berhubungan dengan khasanah rekaman informasi berupa tulisan atau manuskrip yang unik dan tidak ada ditempat lain.
3. Arsip tercipta sebagai akibat dari aktivitas fungsional suatu organisasi atau personal, arsip seringkali terdapat keterkaitan informasi dengan arsip yang lain sebagai satu unit informasi atau kelompok berkas. Sedangkan bahan pustaka merupakan materi diskrit, dimana antara satu buku dengan buku lain tidak saling bergantung.
4.  Bahan pustaka yang hilang dapat diganti dalam bentuk asli atau tersedia diperpustakaan lain, sedangkan arsip yang hilang tidak mungkin dapat digantikan keotentikannya dan tidak mungkin diperoleh dari tempat lain.
5.  Pustakawan berinteraksi dengan buku-buku sebagai satuan individu yang masing-masing memiliki identitas tersendiri, sedangkan petugas kearsipan tidak umum memperlakukan arsip secara individu karena berkas arsip  adalah kesatuan informasi.
            Persamaan mendasar dari arsip dan bahan pustaka adalah bahwa keduanya membutuhkan pemeliharaan dan pelestarian. Di negara-negara maju lembaga kearsipan dan perpustakan secara umum tidak dipisahkan, ini terutama dapat dilihat pada organisasi-organisasi kearsipan dan perpustakaan di perguruan tinggi.

Arti dan perbedaan perpustakaan dengan:
  1. Arsip
  2. Museum
Arti perpustakaan: kumpulan materi yang tercetak dan media non cetak dan di gunakan oleh pemaki.
Arti arsip: suatu catatan yang tidak di gunakan untuk melakukan kegiatan namaun disimpan baik sebagai bukti keaslian.
PERBEDAAN PERPUSTAKAAN DENGAN ARSIP
  • Perustakaan: menyimpan dan menyediakan koleksi dan bahan tercetak tertentu lainya.
  • Perpustakaan: Mengumpulkan.
  • Perpustakaan: subyek.
  • Perpustakaan: secara nomor kelas.
  • Perpustakaan: menyediakan bahan bacaan.
  • Perpustakaan: buku bisa di fotokopi.
  • Perpustakaan: pustakawan berinteraksi dengan buku satuan individu.
  • Perpustakaan: buku sumber sekunder.
  • Perpustakaan: pemakai lebih luas. .
  • Arsip:memelihara akumulasi arsip dan dinamais atau makalah dari menjadi organik dan peroranagn termasuk bahankearsipan tercetak semacam bahan buku panduan yang di keluarkan oleh sebuah badan, lembaga/ institusi.
  • Arsip: menerima
  • Arsip: tupoksi (catatan yang dilestarikan)
  • Arsip: di simpan di Nasional
  • Arsip sebagai kegiatan
  • Arsip tidak bisa di fotokopi
  • Arsip: sebagai satuan tidak lazim dalam perorangan
  • Arsip: sumber primer
  • Arsip: pemakai terbatas
Konsep Arsip
Arsip berasal dari kata archeion (bahasa Yunani) dan archivum (bahasa Latin) artinya kantor pemerintah dan kertas yang disimpan di kantor tersebut, yang semula diterapkan pada records atau rekaman pemerintah (arsip). Konsep arsip sudah dikenal ribuan tahun lalu, semula arsip menjadi satu dengan perpustakaan. Pemisahan antara arsip dengan perpustakaan terjadi sekitar abad 12 ketika muncul negara kota yang mulai aktif dalam kegiatan perdagangan. Pengertian arsip yang ada di Amerika Utara atau negara Anglo Saxon berbeda dengan pengertian arsip yang digunakan di Indonesia. Di Amerika Utara dibedakan konsep record artinya informasi terekam dengan tidak memandang bentuknya instansi atau perorangan dalam kegiatannya yang berkaitan dengan administrasi, bisnis atau perundang-undangan. Record ini bila telah diserahkan ke badan arsip menjadi archive. Untuk Indonesia pengertian record sama dengan arsip dinamis sedangkan pengertian archives menurut konteks Amerika Utara adalah arsip statis. Gabungan arsip dinamis dan arsip statis dikenal dengan istilah arsip.
Fungsi dan Tugas Arsip
Fungsi arsip ialah:
  1. Membantu pengambilan keputusan.
  2. Menunjang perencanaan.
  3. Mendukung pengawasan.
  4. Sebagai alat pembuktian.
  5. Memori perusahaan, melestarikan ingatan lembaga/instansi.
  6. Efesiensi instansi/lembaga.
  7. Menyediakan informasi produk.
  8. Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
  9. Sebagai rujukan historis.
  10. Menyediakan informasi personalia, keuangan, dan sejenisnya.
  11. Memelihara aktivitas hubungan masyarakat.
  12. Arsip juga digunakan untuk kepentingan politik.
  13. Untuk pendidikan. Untuk menyelamatkan diri baik secara fisik maupun rohani.Untuk menelusur silsilah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arsip diartikan sebagai dokumen tertulis yang mempunyai nilai historis, disimpan, dan dipelihara ditempat khusus untuk referensi. (KBBI/Pusat Pembinaan & Pengembangan Bahasa. Jakarta: Balai Pustaka, 1988)
Pengertian Arsip lainnya menurut Buku Himpunan UU & Peraturan Kearsipan RI ialah :
  1. Naskah-naskah yang diterima oleh lembaga-lembaga negara dan badan-badan pemerintahan dalam bentuk corak apapun baik dalam keadaan tunggal maupun dalam keadaan berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan.
  2. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh badan-badan swasta dan atau perorangan, dalam bentuk corak apapun baik dalam keadaan tunggal maupun dalam keadaan berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan.(Himpunan UU & Peraturan Kearsipan RI/Drs. A. W. Widjaja. Jakarta : Rajawali Press, 1990)
  3. Berdasarkan dua pengertian diatas, Drs. Zulkifli Amsyah, MLS. mengatakan bahwa arsip yang disebutkan diatas dibedakan menurut fungsinya, yaitu arsip dinamis dan arsip statis.
    Arsip dinamis ialah semua arsip yang masih berada di berbagai kantor, baik kantor pemerintah, swasta, atau organisasi kemasyarakatan, karena masih digunakan secara langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, dan kegiatan administrasi lainnya. Arsip dinamis dalam bahasa inggris disebut record.
  4. Sedangkan arsip statis adalah arsip yang disimpan di Arsip Nasional (ARNAS) yang berasal dari arsip (dinamis) dari berbagai kantor. Arsip statis dalam bahasa inggris disebut archieve.
PERBEDAAN PERPUSTAKAAN DENGAN MUSEUM
Perpustakaan:
  • Perpustakan: lebih banyak kertas atau buku atu media lainya.
  • Perpustakaan: menyimpan barang yang bisa di pinjamkan.
Museum:
  • Museum: lebih banyak menyimpan barang yang sejenis.
  • Museum: menyimpan barang yang tidak boleh di pinjam.
  • Arti Museum hanya dapat dipahami karena fungsinya dan karena kegiatan-kegiatannya. Dan zaman ke zaman fungsi museum mengalami perubahan-perubahan.
Menurut Drs. Moh. Amir Sutaarga dalam bukunya yang berjudul: “Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum”, arti museum itu tetap mengingatkan kita kepada kuil di jaman Yunani klasik tempat persembahyangan dan pemujaan ke 9 dewi Muze, lambang-lambang pelbagai cabang ilmu dan kesenian. Ke 9 dewi Muze itu sebagai anak Zeus, dewa utama dalam pantheon Yunani kiasik dijadikan lambang pelengkap pemujaan manusia terhadap agama dan ritual yang ditujukan kepada Zeus. Jadi sekalipun fungsi-fungsi museum berobah dan zaman ke zaman sesuai dengan kondisi dan situasi zamannya, tetapi hakekat pengertian museum tetap tidak berubah. Landasan ilmiah dan kesenian tetap menjiwai arti museum sarnpai sekarang.
Dalam lingkup internasional, masalah yang menyangkut pendidikan, pengetahuan dan kebudayaan ditangani oleh Unesco. Museum mempunyai peranan yang cukup penting dalam rangka kegiatan kerjasama kebudayaan. Untuk menangani berbagai hal mengenai Museum, maka didinikanlah ICOM (International Council Of Museum) yang antara lain bertujuan :
Membantu museum-museum. Menyelenggarakan kerjasama antar museum dan antar-anggota profesi permuseuman. Mendorong pentingnya peranan museum dan profesi permuseuman dalam tiap paguyuban hidup dan memajukan pengetahuan dan saling pengertian antar bangsa yang makin luas.
COM telah merumuskan definisi atau batasan museum sebagai suatu lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan -tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya.
Dan definisi atau batasan tersebut, maka:
a. Museum merupakan badan tetap, tidak mencari keuntungan dan harus terbuka untuk umum.
b.Museum merupakan lembaga yang melayani masyarakat untük kepentingan perkembangannya.
c. Museum memperoleh atau menghimpun barang-barang pembuktian tentang manusia dan lingkungannya.
  1. Museum memelihara dan rnengawetkan koleksinya untuk digunakan sebagai sarana komunikasi dengan pengunjung.
e. Kegiatan-kegiatan museum di belakang layar dan kegiatan yang kelihatan oleh umum, seperti hasil penerbitan, pameran, ceramah dan peragaan kesemuanya itu adalah untuk studi, pendidikan dan kesenangan

Sedangkan fungsi museum antara lain adalah :
a. Pengumpulan dan pengamanan warisan alami dan budaya.
b. Dokumentasi dan penelitian ilmiah.
c. Konservasi dan peservasi.
d. Penyebaran dan perataan ilmu untuk umum.
e. Pengenalan dan penghayatan kesenian.
f.  Pengenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa
g. Visualisasi warisan alarn dan budaya.
h. Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia.
i. Pembangkit rasa bertakwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dokumentasi menurut Paul Otlet pada International Economic Conference tahun 1905. adalah kegiatan khususu berupa pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penemuan kembali dan penyebaran dokumen.
Arti dokumentasi dari kesimpulkan diatas adalah: kegiatan dokumentasi melibatkan kegiatan pengumpulan, pemeriksaan, pemilihan dokumen sesuai dengan kebutuhan dokumentasi; memungkinkan isi dokumen dapat di akses; pemrosesan dokumen; mengklasifikasi dan mengideks; menyipkan penyimpanan dokumen; pencari kembali dan penyajianya.
Perbedaan:
Perpustakaan.
  1. Melayani pembaca, menyediakan koleksi, melayani yang datang.
  2. Pemintaan buku dapat dibawa pulang atau bisa di baca di perpustakaan.
Perpustakaan adalah kumpulan materi yang tercetak dan media non cetak dan di gunakan oleh pemakai.
Perpustakaan.
Memberikan informasi melalaui buku, boleh dibaca diperpus atau boleh di pinjam. Pertanyaan langsung melalaui telepon tidak bisa langsung terjawab dengan akurat. Tersusun dengan nomor kelas. Cakupan informasi lebih luas dalam bentuk buku. Undang-undang No. 43 Tahun 2007 membahas tentang perpustakaan terdiri dari 15 bab dan 54 pasal. Undang-undang ini disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Nopember 2007 oleh Presiden RI yaitu Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, kemudian diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM RI yaitu Bapak Andi Mattalata. Secara garis besar UU No. 43 Tahun 2007 pengolahan Pustaka. Terlihat bahwa UU Perpustakaan mengatur cukup lengkap berbagai hal yang menyangkut pengembangan perpustakaan, posisi pustakawan dan keterlibatan masyarakat serta tanggungjawab pemerintah dalam proses mencerdaskan kehidupan berbangsa seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. Hanya memang sangat disayangkan bahwa UU Perpustakaan belum dapat dilaksanakan sepenuhnya karena peraturan pemerintah sebagai petunjuk pelaksanaannya belum ada. Tujuan dibentuknya UU Perpustakaan seiring dengan tujuan pemberdayaan perpustakaan itu sendiri, yaitu dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Karena bangsa yang cerdas masyarakatnya bisa berkompetisi di era globalisasi dalam kemandirian. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat & mengurangi kemiskinan dan terwujudnya Pembangunan Nasional. Tanggapan masyarakat Berikut ini beberapa tanggapan maupun pendapat masyarakat tentang hadirnya Undang-Undang No. 43 Tentang Perpustakaan:
  1. Menurut Arif Surachman, S.IP., UU Perpustakaan merupakan UU yang memberikan dasar hukum dan harapan perubahan bagi kondisi perpustakaan dan pustakawan di Indonesia[1].
  2. Keberadaan UU Perpustakaan secara langsung dan tidak langsung akan memberikan suatu perkembangan dan perbaikan bagi kondisi perpustakaan dan kepustakawanan di Indonesia[2].
  3. Menurut Tri Hardiningtyas, melalui Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 31-32, pustawakan diberi hak dan kewajiban yang harus ditaati. Mari kita berhenti mengeluh dengan tunjangan yang kecil, koleksi yang sedikit, sarana prasarana kurang memadai, dan sebagainya.[3] “Terkait dengan Undang Undang No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, Undang-undang yang ada saat ini masih terlalu umum, belum mengatur hal-hal teknis seperti pengelolaan perpustakaan, dan hal-hal teknis lainnya. Kita menuntut adanya regulasi teknis dari setiap ayat yang tercantum dalam undang-undang tersebut,” kata Wien Muldian, aktivis literasi yang mewakili Forum Indonesia Membaca[4].
  4. Menurut Mujib, dalam undang-undang tersebut juga diatur hubungan antara perpustakaan nasional dan perpustakaan di seluruh Indonesia. “Sekarang perpustakaan sudah menjadi lembaga yang dikukuhkan ke dalam undang-undang, ” kata Wakil Ketua Komisi X DPR dari Fraksi Partai Golkar, H Mujib Rohmat usai pengesahan UU Perpustakaan di Gedung DPR[5].
  5. Menurut BAPUSDA Jawa Barat, lahirnya UU No. 43 tentang Perpustakaan memberikan harapan baru untuk semakin mengoptimalkan fungsi dan peranan perpustakaan bagi kemaslahatan masyarakat Jawa Barat serta mewujudkan perpustakaan kesinergian untuk kepentingan seluruh komponen dan stakeholder.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar